Serial Ramadhan #29

Beranda
Dakwah
Artikel Islam
Serial Ramadhan #29

Taubat


Saudaraku! Tutuplah Bulan Ramadhan yang mulia ini dengan taubatmu kepada Allah dari semua maksiat yang pernah kau lakukan, serta segeralah kembali kepada Allah berserah diri dengan menjalankan ketaatan kepadaNya.
Sungguh, manusia adalah makhluq yang tak akan pernah lepas dari dosa, kekurangan, dan sifat lupa, sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda :

كلُّ بَنِي آدمَ خطَّاءٌ  وخيرُ الخطَّائينَ التَّوَّابونَ

“Dan setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan yang paling baik diantara mereka itu (yang banyak berbuat salah) adalah yang segera bertaubat kepadaNya”. (HR. Ibnu Majah: 4251)


Perhatikanlah firman Allah Azza wa Jalla :


وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (QS. Huud: 3)


Kemudian Allah berfirman pada ayat yang lainnya :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS. Fushshilat: 6)


Dan ayat-ayat lainnya dalam kitabNya yang banyak sekali, semuanya memberikan anjuran kita untuk memperbanyak taubat kepada Allah Ta'ala.


•    Kemudian mari kita perhatikan pula hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini, diantaranya :


1.    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertaubat tidak kurang dari 100x per harinya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku juga bertobat kepada-Nya sehari seratus kali”. (HR. Muslim: 2702)


2.    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertaubat lebih dari 70x setiap harinya.

إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً

“Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”. (HR. Bukhari: 6307)


3.    “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubatnya seorang hamba, lebih dari gembiranya seorang musafir yang kehilangan tunggangannya dengan seluruh barang bawaan di atasnya, ia pun kesana-kemari mencari dan hampir putus asa kemudian berteduh di bawah pohon, lalu tiba-tiba tunggangannya kembali lengkap dengan seluruh bawaannya tadi dengan tanpa kekurangan apa pun, musafir ini pun sangat gembira hingga melontarkan perkataan kufur saking gembiranya membuat kepleset lisannya mengatakan "Yaa Allah engkau pelayan dan aku RabbMU". (HR. Muslim: 2747)

Ketahuilah Allah lebih gembira dan senang dari seorang musafir tadi, karena seorang hamba yang bertaubat berarti telah kembali kepada Allah setelah sebelumnya menjauh dari Allah saat bermaksiat.

4.    Allah Azza wa Jalla akan menerima taubat dari hambaNya.

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وادِيًا مِن ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إلَّا التُّرابُ ويَتُوبُ اللَّهُ علَى مَن تابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat”. (Muttafaqun 'Alaihi)



Apa itu Taubat?

Taubat adalah kembali melakukan ketaatan kepada Allah setelah ketergelinciran akibat maksiat. 

Oleh karena Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi, maka manusia harus memahami dengan benar hakikat ibadah, yaitu menghinakan diri, pasrah dan tunduk kepada Dzat yang diibadahi disertai dengan kecintaan dan pengagungan. 

Maka, di saat seorang hamba tergelincir dari ketaatan menuju maksiat hendaknya dia segera bertaubat dengan kembali kepada Allah, kembali mengetuk pintu ampunan, layaknya seorang yang sangat faqir yang benar-benar membutuhkan ampunan, sehingga dia pun benar-benar merasa hancur sehancur-hancurnya, merasa hina sehina-hinanya di hadapan Allah karena maksiatnya tadi.

Taubat itu harus segera, tidak boleh terlambat apalagi lalai dengannya, sebagaimana Allah dan RasulNya memerintahkannya. 

Telah diketahui bersama bahwa perintah dari Allah dan RasulNya membawa konsekuensi percepatan, segera, tidak boleh ditunda. 

Sungguh seorang hamba tidak boleh sampai menundanya karena ia tak akan tahu kapan lagi mampu melaksanakan taubatnya, terlebih apabila datang kematian secara tiba-tiba sehingga tak cukup waktu lagi untuk bertaubat. 

Disamping itu, saat dosa dilakukan terus menerus akan menyebabkan kerasnya hati dan tertutup serta semakin jauh dari Allah sehingga lambat laun imannya pun meredup dan melemah karena Iman dapat bertambah dengan melakukan ketaatan dan dapat berkurang karena maksiat yang dilakukan.

 Kemudian, maksiat yang dilakukan terus menerus juga akan membuat pelakunya semakin lekat dan mencintai maksiat tersebut, sehingga sangat sulit meninggalkannya, sebagaimana karakter dari jiwa manusia apabila terbiasa melakukan suatu aktivitas akan sangat sulit berlepas diri darinya. 

Orang yang terbiasa dan lekat dengan maksiat akan dibukakan pintu maksiat selanjutnya oleh syaithan sehingga semakin lekat dan terus menerus menumpuk dosa. Sungguh tak mengherankan ketika para ulama mengumpamakan maksiat itu laksana pengantar kekufuran, karena orang yang larut tenggelam dan asyik dengan maksiatnya lambat laun akan mendekati jurang kekufuran bahkan bisa melepas agamanya keseluruhan.
Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari segala macam bentuk maksiat. Amin


Syarat-syarat Taubat :

1.  Mengikhlaskan niat taubatnya karena Allah semata.
2.  Benar-benar menyesali perbuatannya.
3.  Bersegera menjauhi dan meninggalkan maksiatnya, Tidak terus-terusan melakukannya (tidak kembali lagi).
   Menyelesaikan perkara (minta maaf) apabila maksiat dan dosanya terkait hak sesama manusia.
4.  Benar-benar berazam kuat untuk tidak kembali melakukan maksiat di kemudian hari.
5.  Tidak menunda taubat hingga berakhirnya masa diterimanya taubat.
   Taubat masih Allah terima hingga sebelum ajal tiba, atau sebelum matahari terbit dari barat (salah satu tanda kiamat besar).

   Perhatikanlah ayat berikut ini :

•    يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

“Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”. (QS. Al-An'am: 158)


•    وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan, hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. (QS. An-Nisaa: 18)


Pahamilah hal ini saudaraku! Kapan saja syarat-syarat taubat itu dilakukan seorang hamba, maka Allah pasti akan segera menghapus dosa dan kesalahan hamba tersebut betapa pun besarnya. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar: 53)


Lihat ayat berikutnya, Allah berfirman :
 

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisaa: 110)


Oleh karenanya, bersegeralah semoga Allah memberikan rahmatNya dan keberkahan pada usiamu dengan memudahkanmu untuk bertaubat dari dosa, sebelum datangnya ajal secara tiba-tiba sehingga semuanya sudah terlambat.

Wallahu a'lam

Tinggalkan Komentar Disini


Copyright 2015-2024 © LPI Sari Bumi Sidoarjo. Developed by AZATEAM